Kamis, 04 Februari 2010

"kakak cimut jangan nangis"


tidak ingat bagaimana asal usulnya hingga dia bisa jadi salah satu anggota rumah. tubuhnya yang saat itu mungil dan ringkih, putih dan kemerahan--muat di kantung kertas sebesar telapak tangan. itu yang masih saya ingat dengan jelas. memiliki sesuatu untuk dilindungi, membuat saya ingin membawanya pulang. 

saya ingat bagaimana kesabaran ekstra dibutuhkan. saat dia masih kecil dan suka mencret, saat dia belum akrab dengan manusia dan doyan pipis sembarangan, saat dia mengintip dari celah kardus dan merusaknya kemudian. saat dia beol ditempat tidur. saat dia ketakutan melompat turun dari atas meja makan. saat dia menggaruk hidung dan telinganya. saat dia berlalian mengelilingi kemanapun saya berjalan didalam rumah.  saat dia berpose untuk kamera. saat dia tertidur dibelaian. saat dia berlali dan kehilangan kendali. saat dia mencuri brownis. saat dia menyambut kepulangan. saat dia mengetuk pintu kamar. saat dia bermain. saat dia menatap. saat saya menyayanginya dan dia menyayangi saya. saat saya menangis sendirian dan dia menemani, berbaring disebelah saya, melalui hatinya berkata "kakak cimut jangan nangis". 

tetapi sekarang saya menangis. semenjak usianya makin tua, semakin banyak penyakit melumpuhkan keceriaannya. memintanya bertahan hingga saya pulang bukan sesuatu yang berlebihan bukan? hingga pada akhirnya dia sudah tak sanggup lagi. bukan karena menyerah, saya tahu dia berusaha menunggu saya--melainkan sudah saatnya.
saatnya dia pergi. 
perjumpaan terakhir adalah malam sebelum keberangkatan saya kejerman, saat itu dia menemani saya berkemas, kami sedikit bercakap-cakap. 
"janji ya tunggu kakak pulang..."
dia lalu mendekatkan dirinya meminta dibelai.

keesokkan paginya, sedikitpun dia tak menunjukkan diri. 

rindu...rindu dia...

tiga hari kemarin, dia mendatangi mimpi. tersenyum dan membiarkan saya memeluknya lebih lama. andai saja saya memeluknya lebih lama dari yang lebih lama--tak menyangka dia akan pergi tanpa mengizinkan saya menemani saat terakhirnya. pedih. 
lima tahun bukan waktu yang singkat, namun cukup cepat untuk bisa menyayangi dia seperti ini. saya bersyukur, sempat membawanya pulang dan menjadikannya bagian dari 5 tahun saya. dia bukan hanya seekor mahkluk kelinci, tapi perwujudan kasih sayang dalam pertautan jiwa.
umay...

farewell, umay...semoga semasa hidupmu kamu bahagia. kakak sayang kamu. terimakasih ya

1 komentar:

Labu Laris mengatakan...

hewan yang lucu.