Jumat, 17 Agustus 2007

belated gratitude

Minggu terakhir dalam liburan gak jelas arahnya dengan fakta bahwa senin tanggal 13 kemarin saya baru saja berulang tahun dan apa yang saya dapat? enol besar. Saya bahkan ga sanggup menghadiahi diri selain menghilang dari peredaran orang2 – keliling kota seharian, sendirian, tanpa ada yang menawarkan diri (ada sih, tapi orang itu ga memenuhi tawarannya)-- satu2nya hadiah ulang tahun yang dijanjikan semesta ini berupa hujan meteor pada malam saya berulang tahunpun bahkan tidak dapat saya tangkap momennya, ugh. Oh oh, juga fakta baru bahwa Alferd Hitchcock dan Fidel Castro ternyata lahir pada tanggal yang sama (setidaknya saya dapat informasi)
Saya mau berbagi sedikit tentang kenapa hari itu saya nampak tak ingin diintervensi, tak ingin ditemani,tak ingin dihinggapi, tak ingin... pokoknya tak ingin. Padahal hari itu teman2 saya bersenang2 kedufan dengan harapan saya ikut (plus harapan lainnya kenapa saya harus ikut)
Beberapa "teman" menyesal tak bisa menghibahkan waktunya untuk saya ,maka saya putuskan tak akan meminta siapapun menemani saya melewati hari itu, saya ga mau kecewa duluan mengetahui jawaban mereka. Pesimis,pathetic dan skeptis di hari berkurangnya masa hidup didunia, sungguh langkah yang tidak mantap.
Namun rasanya gagah ketika pasangan yang mengantri tiket bioskop dibelakang saya menyadari saya beli tiket hanya untuk satu orang, mereka menatap seolah berkomentar "wah,sendirian?" lalu saya balas menatap,percaya diri "iya, terus kenapa?" terus keluar antrian tanpa terlihat "oh sial ketauan menyedihkan" --what a feeling—
Bermonolog pada hari itu membantu saya mengenal sosok pribadi, sebelumnya saya selalu mengira orang lain lebih bisa memberikan saya pengetahuan baru mengenai saya melalui feedback yang saya peroleh selama berhubungan dengan mereka (padahal kemampuan interpersonal skill-saya angin2an). kesannya saya begitu terobsesi pada diri sendiri--full of self-importance-- tapi, terus terang buat saya, untuk menjalankan inti, saya harus memahami isinya dulu. diri saya adalah musuh terbesar, saya tak mau gegabah dengan kenekatan yang biasa saya lakukan tanpa perhitungan --hanya karena ingin menjadi diri apa adanya-- karena seketika itu juga saya menjadi tidak peduli pada sekeliling.
Teringat tahun lalu ,saat 'digulung' pasir kuta dan air pantai hangat2 kuku pada tengah malam 13 agustus (hari itu minggu dan paginya saya pergi rafting bersama teman2) masih ada cheese cake ulang tahun yang lilinnya berhasil ditiup tanpa keduluan angin pantai,masih ada perayaan makan2, masih ada teman2,masih ada ketawa2, masih ada rasa haru akibat patah hati dan depresi.
Banyak input yang bisa saya dapat waktu itu. apakah karena saya banyak bergaul dengan orang2? apakah karena saya membaur dengan enteng menjadi individu kolektif? (yang biasanya saya hindari) padahal kierkergard cenderung memilih untuk sendiri, karena sendiri katanya bisa mendatangkan keheningan,dan keheningan adalah cara paling efisien untuk menemukan jiwa-- dan siapa itu kierkergard yang gagasannya telah mengusik saya untuk bertindak demikian? (omong2 kierkergard adalah filsuf yang riwayatnya tamat dalam gagasan 'kesendirian'nya sendiri)-- tapi, bagaimana dengan kenyataan bahwa, saya bisa merasa sendiri dalam keramaian. apakah dengan keheningan macam itu saya bisa menemukan jiwa?
Saya ga pernah punya jawabannya.

Tidak ada komentar: